RSS

Malin Kundang

12 Feb

Disinilah Mande Rubajah tinggal.

Pentjaharian suaminya mengumpulkan kaju2 dihutan-hutan. Penghidupan mereka sangatlah sengsaranja. Kadang2 pagi makan, petang tiada. Akan tetapi kesengsaraan mereka terima dengan sabar. Memang serumpun kaju  tiada seberapa harganja. Tempatnja djauh pula kehutan.

Kadang2 suaminja pulang sendja kala kerumah. Membawa sekedar makanan untuk malam.

Rupa2nya kesengsaraan mentjari makan ditambah pula dengan kesengsaraan jang lain. Telah bertahun-tahun lamanja Mande Rubajah menderita penjakit dada. Tiap2 hari nafasnja dirasakan sesak.

Tetapi dimana didapatnja obat? Dengan apa obat dibeli?

Suaminjapun selalu memkirkan kesedihan itu.

Tiap2 hari ia akan keluar mentjari nafkah.

Seriang ia berharap agar dadpatlah ia rezeki berlebih untuk membeli obat bagi isterinya. Dalam pada itu Mande Rubajah tinggallah seorang diri dirumah.

Sebab mendatangi tetangga kerumahnja ia tak sanggup.

Diselatan kota Padang disebuah kampung, tinggallah Mande Rubajah dengan suaminja. Mereke telah pindah kekota. Suaminja berharap mudah2an didalam kota rezekinja akan lebih baik. Mulailah kini pengidupan baru. Jaitu penghidupan didalam kota ditepi pantai.

Ditjobanjalah kini hidup sebagai penangkap ikan. Siang hari ia menebar djaring ditepi pantai. Malamnja ia bertolak dengan perahu nelajan sampai djauh kelaut.

Diwaktu subuh barulah ia tiba dirumah. Demikianlah pekerdjaannja setiap hari.

Alhamdulillah, berkat hawa panas dikota penjakit Mande Rubajah makin lamamakin beransur baik. Dan berkat radjin dan tawakalnja mulailah berachir kemeratan hidup. Kini dapatlah ia membeli sehelai dua helai badju untuknja. Dapat djuga ia mengumpulkan uang serba sedikit.

Dalam pada itu kedua suami isteri tiada lupa akan perintah Jang Maha Kuasa. Setiap hari mereka sembahjang dan berbuat baik untuk sesama manusia.

Telah bertahun-tahun mereka mendjani suami isteri. Selama itu pula mereka menginginkan seorang putera.

Achirnja pada suatu hari pergilah Mande Rubajah menemui seorang dukun. Pada dukun ini dinjatakan keinginannja. Oleh dukun itu ia diberi obat2an, serta menjatakan jang ia tak usah berputus asa. Mudah2an djika nasihat2 itu diturutnja, tentu pintanja terkabul.

Berita ini diterima oleh suami isteri dengan sangat gembira. Dapatlah ia kelak mengharapkan akan lahirnja seorang putera. Aduhai, tentulah ia nanti akan mendjadi putera kesajangan.

Setiap hari sehabis sembahjang ia memohon kepada Tuhan agar mereka dikurniakan seorang anak laki2. Dan apakah jang terdjadi? Berkat jakinnja ia memohon tiap2 hari pada Jang Maha Esa, permintaannja itu kesudahannja terkabul.

Pada suatu malam, lahirlah seorang anak laki2 sebagaimana jang diidam-idamkan Mande Rubajah. Alangkah gembira hati kedua suami isteri itu. Maka puteranja diberi nama Malin Kundang.

Setiap hari sebelum ia mulai mentjari nafkahnya, Malin Kundang ditimang, didukung dan ditjium. Sebagai buah hati pengarang djantung orang tuanja dia dimandjakan berlebih-lebihan.

Demikianlah Malin Kundang makin lama makin besar. Ternjata bahwa tingkah lakunja sangat menjenangkan hati orang tuanja. Kira2 umurnja 6 tahun, mulailah ia dibawa ajahnja mendjaring ikan. Ia sangat giat bekerdja. Segeralah ia pandai mendjaring ikan. Kini makin bertamb-tambhalah rezeki mereka. Dahulu jang mentjari nafkah hanja ajahnja sadja. Malin Kundang turut serta meringankan beban ajahnja.

Perkerdjaannja tiap2 hari menundjukkan bakatnja jang baik. Malin Kundang telah pandai mendjaring. Ia telah pandai pula menukat. Bahkan ia berani mejarkan perahu sampai djauh ketengah laut.

Didalam lautan ia berenang laksana ikan. Dan ia tiada segan memandjat pohon jang tertinggi. Malin Kundang mendjadi teladan bagi orang kapungnja. Ia mendjadi kebanggaan ibu dan ajahnja.

Ketika Malin Kundang berumur 9 tahun berdjangkitlah penjakit kolera dikota Padang.beratus-ratus manusia mendjadi korban. Penjakit djahanam itu tidak memilih bulu. Besar-ketchil, tua muda, bila tiada berhati-hati mendjadi korban, malang akan tiba tak dapat dielakkan. Malin Kundang putera kesajangan dihinggapi penjakit tersebut. Ajah bundanja sangsilah gusar kalau2 ia tiada dapat sembuh. Makin lama penjakitnja makin berat. Segala daja telah diichtiarkan. Namun penjakit Malin Kundang belum djuga beransur. Kedua suami isteri itu mendjadi gelisahlah.

Hari telah magrib, Mande Rubajah dan Malin Kundang dirumah menantikan ajah. Sungguh gandjil perasaan mereka pada malam ini. Biasanja pada waktu ini suaminja telah tiba dirumah.  Ia harus makan dahulu. Lalu ia pergi kembali membawa bekal untuk malam hari. Disamping itu ia harus membawaobat untuk anaknja jang sakit.

Tetapi mengapakah ia belum djuga tiba? Apakah gerangan jang terdjadi dengan dirinja?

Matahari pagi telah terbit pula.

Suami Mande Rubajah belum djuga kembali. Alangkah gelisah mereka anak beranak.

Hati gusar tiada tertahan-tahan. Mande Rubajah dengan tergopoh-gopoh meninggalkan anaknja jang sakit itu. Ia pergi  ketepi pantai. Ditemuinja penangkap2 ikan lainnja. Disini ia mendapat kabar jang menjedihkan. Kemarin pagi suaminja bertolak seorang diri kePulau Pisang. Petang harinja badai mulai bertiup dengan dahsjatnja. Ketika itu, menurut pendapat kawan2nja suaminja dalam perdjalanan pulang.

Sudah barang tentulah ia mendapat ketjelakaan ditengah lautan.

Tiap2 hari Mande Rubajah masih menantikan djuga kedatangan suaminja. Tapi rupanja ia tiada kembali lagi…………

Pikirannja mendjadi bertambah katjau. Apalagi mengenangkan penjakit Malin Kundang jang bertabah keras.

Dalam keadaan jang serba sulit Mande Rubajah merawat putera jang dikasihinja. Satu demi satu harta bendanja ulai didjualnja. Badannja mendjadikan bertambah kurus. Tetapi ia berusaha terus agar puteranja dapat sembuh.

Hatinja jang rusuh mendjadi tenang kembali. Penjakit Malin Kundang makin lama makin berkurang. Dalam pada itu ia terus membanting tulang mentjari nafkah sekuat tenaganja. Akan tetapi Mande Rubajah tiada menjesal. Apalagi ketika melihat pada suatu hari  puteranja mendjadi sembuh sama sekali.

Kini tibalah giliran Malin Kundang menggantikan ajahnja mendjari nafkah.

Sebuah rumah telah didirikan ditepi pantai. Ruah itu asil keringat Malin Kundang. Dibelakang rumah itu terdapatlah lading. Djika Malin Kundang mentjari ikan, ibunja pergi bertanam keladang. Kini bukan sadja hasil ikan jang mendatangkan untung. Tetapi hasil ladangpun dapat dibawa kedalam kota.

Apabila ia kembali dari pekerdjaannja, dihidangkannjalah pada Malin Kundang makanan jang lezat2.

Pada suatu hari dibulan Safar, Malin Kundang menemui ibunja lalu berkata:,,Bunda, izinkanlah anakanda bertolak ketanah Malaya untuk mentjari rezeki.’’

,,Apakah gunanja engkau pergi merantau. Bukankah penghidupan kita telah memadai?”

,,Benar bunda. Sekedar untuk makan disini telah mentjukupi. Tetapi anakanda bermimpikan gedung indah untuk bunda. Sawah lading dan harta benda jang mahal2 untuk kesenangan hidup kita. Apabila tjika2 anakanda telah tercapai, akan anakanda djemput bunda. Akan anakanda serahkan segala kekajaan ketangan bunda.”

Dengan meninggalkan kata2 itu berangkatlah ia………………………..

Ditanah Malaya Malin Kundang mengadu untung. Rupanja bintangnja sedang naik. Perdagangngannja membawa keuntungannja. Makin lama makin besar djuga keuntungannja Pegawai2nja telah bertambah banjak pula. Dalam waktu jang singkat ia telah dapat mengumpulkan harta benda. Emas, intan, permata dan uang sudah banjak dimilikinja.

Ditanah Malaja Malin Kundang telah mendjadi seorang saudagar jang kenamaan.

Disalah sebuah kota ditanah Malaya ia endirikan sebuah gedung jang indah. Telah berpuluh-puluh perusahaannja tersebar ditanah asing itu. Ia mendjadi seorang penduduk jang ternama. Semua penduduk tanah Malaya segan dan hormat padanja. Berita tentang kekajaannja achirnja sampai djuga ke kota Padang.

Berita itu dibawa oleh pedagang2 ketjil jang pergi ketanah Malaya dan Padang.

Dipertengahan bulan Hadji, Malin Kundang mengadakan pesta pernikahan jang sangat meriah. Ia telah dipinang oleh seorang puteri anak saudagar kaja. Adapun puteri itu termasjhur akan ketjantikannja. Seluruh tanah Malaya turut serta meramaikan pesta perkahwinan mereka itu. Lamanja keramaian itu ialah tudjuh hari tudjuh malam. Didalam sedjarah Malaya belum ada perajaan sebesar itu.

Betapapun senangnja ia hidup ditanah asing, namun Malin Kundang terkenang djuga akan kampong halamannja. Selalu tanah Padang terbajang diruangan matanja.

Bukankah orang2 dikampung halamannja harus pula melihat kekajaan hartawan Malin Kundang?

Tjita2nja itu disampaikan kepada isterinja. Isterinja setudju dengan rentjana suaminja.

Maka diadakanlah persiapan untuk berlajar keteluk Padang.

Sebuah kapal indah, berukir naga masuk kemuara sungai Padang. Tiada berapa djauh dari pantai berhentilah kapal tersebut. Orang telah ramai menanti-nanti akan menjambut hartawan Malin Kundang. Berhari-hari sebelumnja mereka telah mendengar kabar akan maksud kedatangannja.

Ditengah-tengah orang banjak itu kelihatanlah Mande Rubajah. Badannja telah bungkuk , dan mukanja telah penuh dengan kerut. Nampak djelas air matanja mengalir dipipinja. Hatinja sangat gembira. Sebentar lagi ia akan bertemu dengan puteranja, Malin Kundang.

Mande Rubajah naik kekapal mendapatkan puteranja jang sedang memandang kedarat.

,,Anakku………………….!”Sambil berkata demikian dipeluknjalah puteranha itu. Tetapi apakah jang terdjadi?

,,Enjah engkau bedebah! Aku tak kenal padamu!” demikian djawab anak durhaka itu, sambil menolak ibunja sehingga terdjerembab.

,,Anakku……………anakku…………… tiadakah kau kenal ibumu …………ibumu jang member susu padamu, jang membesarkan engkau dan merawat engkau ketika engkau sakit?”

,,Pergilah engkau, ibuku tidak sekotor ini! Demikian djawab putera laknat itu.

,,Tjobalah kau perhatikan benar2 puteraku…….. Aku ini ibu kandungmu. Bukankah engkau Malin Kundang? Sampai hatimu membiarkan ibumu hidup sengsara? Dan sampai hatimu mentjela diriku didepan isterimu dan orang banjak? Malukah engkau mengakui aku ini sebagai ibu kandungmu?”

,,Hai orang tua jang kotor, kalau engkau tiada keluar dari kapalku ini, akan kusuruh orang2ku menolakmu kedalam laut!”

………………………………………………………………………….

Kalau demikian, ja Tuhanku, dengarkanlah pintaku. Tundjukkanlah kebesaranMu sehingga terbukti bahwa ia sebenarnja anakku. Kalau sebenarnja dia anakku, Engkaulah jang lebih mengetahui hukuman apa jang patut diberikan padanja. Ja Tuhanku, Engkaulah jang maha mengetahui dan Engkaulah jang menentukan segala-galanja.”

Kini kapal Malin Kundang membelok melalui gunung Monjet, menuju tanah Malaya.

Petir dan kilat sabung menjabung. Gelombang berderai setinggi rumah. Kapalnja terhempas kekiri dan kekanan. Timbul tjemas pada Malin Kundang kini jang telah berdosa kepada ibunja.

Maka berserulah ia: ,,Ja Tuhanku, ampunilah dosaku. Ibu, terimalah ampun puteramu. Dengarkanlah sesalnja jang tak berkeputusan. Tariklah kembali sumpahmu, o ibu …………………. “ Semua sudah terlambat. Sumpah sang ibu terkabul, Malin Kundang menerima hukuman setimpal dengan dosanja. Kapalnja oleng kekiri dan kekanan menantikan saat tenggelam……………….

Segala tenaga dikumpulkan untuk menolong kapal itu. Dalam pada itu terdengar djugalah teriak putera durhaka Malin Kundang, mohon ampun pada ibunja.

Sumpah ibu jang diutjapkan dengan iringan air mata tak dapat ditarik kembali.

Diteluk Air Manis kapal Malin Kundang terhempas. Segala muatannja mendjadi batu. Tamatlah riwajat anak durhaka jang tiada kenal akan kasih ibu.

Malin Kundang telah dikutuki sumpah. Mande Rubajah tiada menjesal. Sampai pada waktu ini bila badai mengamuk dan terhempas keteluk Air Manis, terdengarlah suara sajup2 sampai:

,,Pung ….. Pung ……. Pungngng …”

Artinja, ,, Ibu……… Ibu……………… ampun………..ampun……….”

Suara itu ialah suara Malin Kundang.

P/S: Untuk perhatian pembaca, cerita ini disalin daripada buku yang saya temui di perpustakaan Akademi Pengajian Melayu, Universiti Malaya. Disebabkan tertarik dengan gaya bahasa lamanya, saya menyimpan salinan cerita tersebut, sekarang, saya berkongsi akan gaya bahasa klasik ini bersama pembaca alam maya. Perkongsian ini hanya untuk bertujuan sebagai perkongsian ilmu, harap disalah ertikan, atau disalahgunakan, atau dieksploitasikan. Harap maklum. Sekian.

 
Leave a comment

Posted by on February 12, 2012 in cereka dan kisah

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: