RSS

saja-saja

my new way is terminated..now…new hope..but…can I manage my feel?

 

 
Leave a comment

Posted by on May 8, 2012 in Uncategorized

 

13 februari

Ibu update status hari ini

ibu kata, sejak semalam, 12hb,,,yaya dah mula pandai melangkah selangkah

Alhamdulillah..syukur..

berkat doa ibu..semoga semua berjalan dengan lancar….

 
Leave a comment

Posted by on February 13, 2012 in Luahan

 

harga sabar

sabar..

mahal sungguh harga mu..tinggi nilai mu..tp bila kau ada di sampingku….kekuatan itu ada…bila kau hilang…longlai tubuhku..

 

duhai sabar..

aku amat memerlukan mu di saat ini

namun..

kenapa nilai mu sungguh tinggi?

 

sabar

datang mu ku pinta

pergi mu ku tangisi

kerana

aku tak tau

bila kau akan bersama ku lagi…

 

duhai sabar.

jiwaku kacau

hati galau

namun kau tetap cuba memujuk diriku

 

sabar

aku perlukan mu

aku mahukanmu

namun

mengapa mahal sungguh hargamu

terlalu perit untuk aku membelimu

 

jika ada sesiapa yang memahami

silalah baca..tapi jangan komen

kerana komen itu hanya akan menambah perit dalam jiwa ku

cukuplah ‘like’ sahaja

 

sabar

bengkak mataku

luluh hati ku

tapi..bagaimana harus aku bertahan wahai sabar

 

S.A.B.A.R

lima hurufmu,

dua suku katamu

namun,

ringkas bagaimanapun..nilaimu

tetap mahal!

 
Leave a comment

Posted by on February 12, 2012 in Luahan

 

Malin Kundang

Disinilah Mande Rubajah tinggal.

Pentjaharian suaminya mengumpulkan kaju2 dihutan-hutan. Penghidupan mereka sangatlah sengsaranja. Kadang2 pagi makan, petang tiada. Akan tetapi kesengsaraan mereka terima dengan sabar. Memang serumpun kaju  tiada seberapa harganja. Tempatnja djauh pula kehutan.

Kadang2 suaminja pulang sendja kala kerumah. Membawa sekedar makanan untuk malam.

Rupa2nya kesengsaraan mentjari makan ditambah pula dengan kesengsaraan jang lain. Telah bertahun-tahun lamanja Mande Rubajah menderita penjakit dada. Tiap2 hari nafasnja dirasakan sesak.

Tetapi dimana didapatnja obat? Dengan apa obat dibeli?

Suaminjapun selalu memkirkan kesedihan itu.

Tiap2 hari ia akan keluar mentjari nafkah.

Seriang ia berharap agar dadpatlah ia rezeki berlebih untuk membeli obat bagi isterinya. Dalam pada itu Mande Rubajah tinggallah seorang diri dirumah.

Sebab mendatangi tetangga kerumahnja ia tak sanggup.

Diselatan kota Padang disebuah kampung, tinggallah Mande Rubajah dengan suaminja. Mereke telah pindah kekota. Suaminja berharap mudah2an didalam kota rezekinja akan lebih baik. Mulailah kini pengidupan baru. Jaitu penghidupan didalam kota ditepi pantai.

Ditjobanjalah kini hidup sebagai penangkap ikan. Siang hari ia menebar djaring ditepi pantai. Malamnja ia bertolak dengan perahu nelajan sampai djauh kelaut.

Diwaktu subuh barulah ia tiba dirumah. Demikianlah pekerdjaannja setiap hari.

Alhamdulillah, berkat hawa panas dikota penjakit Mande Rubajah makin lamamakin beransur baik. Dan berkat radjin dan tawakalnja mulailah berachir kemeratan hidup. Kini dapatlah ia membeli sehelai dua helai badju untuknja. Dapat djuga ia mengumpulkan uang serba sedikit.

Dalam pada itu kedua suami isteri tiada lupa akan perintah Jang Maha Kuasa. Setiap hari mereka sembahjang dan berbuat baik untuk sesama manusia.

Telah bertahun-tahun mereka mendjani suami isteri. Selama itu pula mereka menginginkan seorang putera.

Achirnja pada suatu hari pergilah Mande Rubajah menemui seorang dukun. Pada dukun ini dinjatakan keinginannja. Oleh dukun itu ia diberi obat2an, serta menjatakan jang ia tak usah berputus asa. Mudah2an djika nasihat2 itu diturutnja, tentu pintanja terkabul.

Berita ini diterima oleh suami isteri dengan sangat gembira. Dapatlah ia kelak mengharapkan akan lahirnja seorang putera. Aduhai, tentulah ia nanti akan mendjadi putera kesajangan.

Setiap hari sehabis sembahjang ia memohon kepada Tuhan agar mereka dikurniakan seorang anak laki2. Dan apakah jang terdjadi? Berkat jakinnja ia memohon tiap2 hari pada Jang Maha Esa, permintaannja itu kesudahannja terkabul.

Pada suatu malam, lahirlah seorang anak laki2 sebagaimana jang diidam-idamkan Mande Rubajah. Alangkah gembira hati kedua suami isteri itu. Maka puteranja diberi nama Malin Kundang.

Setiap hari sebelum ia mulai mentjari nafkahnya, Malin Kundang ditimang, didukung dan ditjium. Sebagai buah hati pengarang djantung orang tuanja dia dimandjakan berlebih-lebihan.

Demikianlah Malin Kundang makin lama makin besar. Ternjata bahwa tingkah lakunja sangat menjenangkan hati orang tuanja. Kira2 umurnja 6 tahun, mulailah ia dibawa ajahnja mendjaring ikan. Ia sangat giat bekerdja. Segeralah ia pandai mendjaring ikan. Kini makin bertamb-tambhalah rezeki mereka. Dahulu jang mentjari nafkah hanja ajahnja sadja. Malin Kundang turut serta meringankan beban ajahnja.

Perkerdjaannja tiap2 hari menundjukkan bakatnja jang baik. Malin Kundang telah pandai mendjaring. Ia telah pandai pula menukat. Bahkan ia berani mejarkan perahu sampai djauh ketengah laut.

Didalam lautan ia berenang laksana ikan. Dan ia tiada segan memandjat pohon jang tertinggi. Malin Kundang mendjadi teladan bagi orang kapungnja. Ia mendjadi kebanggaan ibu dan ajahnja.

Ketika Malin Kundang berumur 9 tahun berdjangkitlah penjakit kolera dikota Padang.beratus-ratus manusia mendjadi korban. Penjakit djahanam itu tidak memilih bulu. Besar-ketchil, tua muda, bila tiada berhati-hati mendjadi korban, malang akan tiba tak dapat dielakkan. Malin Kundang putera kesajangan dihinggapi penjakit tersebut. Ajah bundanja sangsilah gusar kalau2 ia tiada dapat sembuh. Makin lama penjakitnja makin berat. Segala daja telah diichtiarkan. Namun penjakit Malin Kundang belum djuga beransur. Kedua suami isteri itu mendjadi gelisahlah.

Hari telah magrib, Mande Rubajah dan Malin Kundang dirumah menantikan ajah. Sungguh gandjil perasaan mereka pada malam ini. Biasanja pada waktu ini suaminja telah tiba dirumah.  Ia harus makan dahulu. Lalu ia pergi kembali membawa bekal untuk malam hari. Disamping itu ia harus membawaobat untuk anaknja jang sakit.

Tetapi mengapakah ia belum djuga tiba? Apakah gerangan jang terdjadi dengan dirinja?

Matahari pagi telah terbit pula.

Suami Mande Rubajah belum djuga kembali. Alangkah gelisah mereka anak beranak.

Hati gusar tiada tertahan-tahan. Mande Rubajah dengan tergopoh-gopoh meninggalkan anaknja jang sakit itu. Ia pergi  ketepi pantai. Ditemuinja penangkap2 ikan lainnja. Disini ia mendapat kabar jang menjedihkan. Kemarin pagi suaminja bertolak seorang diri kePulau Pisang. Petang harinja badai mulai bertiup dengan dahsjatnja. Ketika itu, menurut pendapat kawan2nja suaminja dalam perdjalanan pulang.

Sudah barang tentulah ia mendapat ketjelakaan ditengah lautan.

Tiap2 hari Mande Rubajah masih menantikan djuga kedatangan suaminja. Tapi rupanja ia tiada kembali lagi…………

Pikirannja mendjadi bertambah katjau. Apalagi mengenangkan penjakit Malin Kundang jang bertabah keras.

Dalam keadaan jang serba sulit Mande Rubajah merawat putera jang dikasihinja. Satu demi satu harta bendanja ulai didjualnja. Badannja mendjadikan bertambah kurus. Tetapi ia berusaha terus agar puteranja dapat sembuh.

Hatinja jang rusuh mendjadi tenang kembali. Penjakit Malin Kundang makin lama makin berkurang. Dalam pada itu ia terus membanting tulang mentjari nafkah sekuat tenaganja. Akan tetapi Mande Rubajah tiada menjesal. Apalagi ketika melihat pada suatu hari  puteranja mendjadi sembuh sama sekali.

Kini tibalah giliran Malin Kundang menggantikan ajahnja mendjari nafkah.

Sebuah rumah telah didirikan ditepi pantai. Ruah itu asil keringat Malin Kundang. Dibelakang rumah itu terdapatlah lading. Djika Malin Kundang mentjari ikan, ibunja pergi bertanam keladang. Kini bukan sadja hasil ikan jang mendatangkan untung. Tetapi hasil ladangpun dapat dibawa kedalam kota.

Apabila ia kembali dari pekerdjaannja, dihidangkannjalah pada Malin Kundang makanan jang lezat2.

Pada suatu hari dibulan Safar, Malin Kundang menemui ibunja lalu berkata:,,Bunda, izinkanlah anakanda bertolak ketanah Malaya untuk mentjari rezeki.’’

,,Apakah gunanja engkau pergi merantau. Bukankah penghidupan kita telah memadai?”

,,Benar bunda. Sekedar untuk makan disini telah mentjukupi. Tetapi anakanda bermimpikan gedung indah untuk bunda. Sawah lading dan harta benda jang mahal2 untuk kesenangan hidup kita. Apabila tjika2 anakanda telah tercapai, akan anakanda djemput bunda. Akan anakanda serahkan segala kekajaan ketangan bunda.”

Dengan meninggalkan kata2 itu berangkatlah ia………………………..

Ditanah Malaya Malin Kundang mengadu untung. Rupanja bintangnja sedang naik. Perdagangngannja membawa keuntungannja. Makin lama makin besar djuga keuntungannja Pegawai2nja telah bertambah banjak pula. Dalam waktu jang singkat ia telah dapat mengumpulkan harta benda. Emas, intan, permata dan uang sudah banjak dimilikinja.

Ditanah Malaja Malin Kundang telah mendjadi seorang saudagar jang kenamaan.

Disalah sebuah kota ditanah Malaya ia endirikan sebuah gedung jang indah. Telah berpuluh-puluh perusahaannja tersebar ditanah asing itu. Ia mendjadi seorang penduduk jang ternama. Semua penduduk tanah Malaya segan dan hormat padanja. Berita tentang kekajaannja achirnja sampai djuga ke kota Padang.

Berita itu dibawa oleh pedagang2 ketjil jang pergi ketanah Malaya dan Padang.

Dipertengahan bulan Hadji, Malin Kundang mengadakan pesta pernikahan jang sangat meriah. Ia telah dipinang oleh seorang puteri anak saudagar kaja. Adapun puteri itu termasjhur akan ketjantikannja. Seluruh tanah Malaya turut serta meramaikan pesta perkahwinan mereka itu. Lamanja keramaian itu ialah tudjuh hari tudjuh malam. Didalam sedjarah Malaya belum ada perajaan sebesar itu.

Betapapun senangnja ia hidup ditanah asing, namun Malin Kundang terkenang djuga akan kampong halamannja. Selalu tanah Padang terbajang diruangan matanja.

Bukankah orang2 dikampung halamannja harus pula melihat kekajaan hartawan Malin Kundang?

Tjita2nja itu disampaikan kepada isterinja. Isterinja setudju dengan rentjana suaminja.

Maka diadakanlah persiapan untuk berlajar keteluk Padang.

Sebuah kapal indah, berukir naga masuk kemuara sungai Padang. Tiada berapa djauh dari pantai berhentilah kapal tersebut. Orang telah ramai menanti-nanti akan menjambut hartawan Malin Kundang. Berhari-hari sebelumnja mereka telah mendengar kabar akan maksud kedatangannja.

Ditengah-tengah orang banjak itu kelihatanlah Mande Rubajah. Badannja telah bungkuk , dan mukanja telah penuh dengan kerut. Nampak djelas air matanja mengalir dipipinja. Hatinja sangat gembira. Sebentar lagi ia akan bertemu dengan puteranja, Malin Kundang.

Mande Rubajah naik kekapal mendapatkan puteranja jang sedang memandang kedarat.

,,Anakku………………….!”Sambil berkata demikian dipeluknjalah puteranha itu. Tetapi apakah jang terdjadi?

,,Enjah engkau bedebah! Aku tak kenal padamu!” demikian djawab anak durhaka itu, sambil menolak ibunja sehingga terdjerembab.

,,Anakku……………anakku…………… tiadakah kau kenal ibumu …………ibumu jang member susu padamu, jang membesarkan engkau dan merawat engkau ketika engkau sakit?”

,,Pergilah engkau, ibuku tidak sekotor ini! Demikian djawab putera laknat itu.

,,Tjobalah kau perhatikan benar2 puteraku…….. Aku ini ibu kandungmu. Bukankah engkau Malin Kundang? Sampai hatimu membiarkan ibumu hidup sengsara? Dan sampai hatimu mentjela diriku didepan isterimu dan orang banjak? Malukah engkau mengakui aku ini sebagai ibu kandungmu?”

,,Hai orang tua jang kotor, kalau engkau tiada keluar dari kapalku ini, akan kusuruh orang2ku menolakmu kedalam laut!”

………………………………………………………………………….

Kalau demikian, ja Tuhanku, dengarkanlah pintaku. Tundjukkanlah kebesaranMu sehingga terbukti bahwa ia sebenarnja anakku. Kalau sebenarnja dia anakku, Engkaulah jang lebih mengetahui hukuman apa jang patut diberikan padanja. Ja Tuhanku, Engkaulah jang maha mengetahui dan Engkaulah jang menentukan segala-galanja.”

Kini kapal Malin Kundang membelok melalui gunung Monjet, menuju tanah Malaya.

Petir dan kilat sabung menjabung. Gelombang berderai setinggi rumah. Kapalnja terhempas kekiri dan kekanan. Timbul tjemas pada Malin Kundang kini jang telah berdosa kepada ibunja.

Maka berserulah ia: ,,Ja Tuhanku, ampunilah dosaku. Ibu, terimalah ampun puteramu. Dengarkanlah sesalnja jang tak berkeputusan. Tariklah kembali sumpahmu, o ibu …………………. “ Semua sudah terlambat. Sumpah sang ibu terkabul, Malin Kundang menerima hukuman setimpal dengan dosanja. Kapalnja oleng kekiri dan kekanan menantikan saat tenggelam……………….

Segala tenaga dikumpulkan untuk menolong kapal itu. Dalam pada itu terdengar djugalah teriak putera durhaka Malin Kundang, mohon ampun pada ibunja.

Sumpah ibu jang diutjapkan dengan iringan air mata tak dapat ditarik kembali.

Diteluk Air Manis kapal Malin Kundang terhempas. Segala muatannja mendjadi batu. Tamatlah riwajat anak durhaka jang tiada kenal akan kasih ibu.

Malin Kundang telah dikutuki sumpah. Mande Rubajah tiada menjesal. Sampai pada waktu ini bila badai mengamuk dan terhempas keteluk Air Manis, terdengarlah suara sajup2 sampai:

,,Pung ….. Pung ……. Pungngng …”

Artinja, ,, Ibu……… Ibu……………… ampun………..ampun……….”

Suara itu ialah suara Malin Kundang.

P/S: Untuk perhatian pembaca, cerita ini disalin daripada buku yang saya temui di perpustakaan Akademi Pengajian Melayu, Universiti Malaya. Disebabkan tertarik dengan gaya bahasa lamanya, saya menyimpan salinan cerita tersebut, sekarang, saya berkongsi akan gaya bahasa klasik ini bersama pembaca alam maya. Perkongsian ini hanya untuk bertujuan sebagai perkongsian ilmu, harap disalah ertikan, atau disalahgunakan, atau dieksploitasikan. Harap maklum. Sekian.

 
Leave a comment

Posted by on February 12, 2012 in cereka dan kisah

 

3 disember 2011

telah genap dia berumur 8 bulan..pada saat ini ….0015am..semoga dia sentiasa dalam redha-Nya..dipermudahkan urusan hidupnya….kerana dialah permata hati kami berdua….

kami berada di Penang atas sebab mengikut kerja …

yayah dah mula merangkak..belajar berdiri….dan suka bermain dengan Iqbal(anak kawan)..mereka selalu berlumba-lumba untuk bertekak sesama mereka

kemungkinan besar..yayah akan mula belajar berjalan di sini…sangat mendebar-debarkan kerana menunggu masa itu

 

 
Leave a comment

Posted by on December 2, 2011 in Luahan

 

its me..........Morning all, hari ni yayah bangun pukul 6 lebih. Pastu yayah dimandikan oleh ibu, pukul 7.30. baru selesa sikit badan yayah. Nak tidur dah. Ada yang nak joint ker? Yayah selesa kalau dapat peluk dengan kain batik yang nenek beri pada ibu. Nak cuba guna? Ish! tak nak lah, nanti cari sendiri. Ibu, baby yayah nak susu.Nyot…Nyot…nyot…erkkkkk….He….he……he…… nak lelap dah.

Alamak! Lupa nak bagitau yang yayah kenal dah mana satu ibu, mana satu abah, mana satu pakcik….mana satu kakak…He…he….he….Nak genggam tangan lah….Pakcik Bad selalu tunjuk video ayam sabung kat dalam Handset dia…he….he…he…Khamis le[as yayah kena suntikan imun dua bulan…jadi dua tiga menjak ni yayah rasa mengantuk sangat. Nurse pulak bagi ubat sirap Paracetemol untuk yayah, untuk elak yayah daripada demam. Alhamdulilah, nasib baik yayah x demam. Tapi yayah x dapat buang air besar lagi…..sedih nya.

Makcik Nurul kata, minum air masak, yayah dah minum semalam, tapi masih tak dapat nak buang lagi….sedihnya…makin busuk kentut yayah, ibu kata. Ok la, yayah dah mengantuk la….baby yayah nak tidur dulu, mengantuk pulak lepas minum susu ibu. He…..he….he…..Nite all……

 
Leave a comment

Posted by on June 12, 2011 in Luahan

 

Abu Hassan al-Ashaari

Beliau adalah Abu Hassan Ali bin Ismail bin Abi Bashar Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abu Burdah bin Abu Musa al-Ashaari. Abu Musa al-Ashaari ini ialah salah seorang sahabat Rasulullah SAW. Dilahirkan di Basrah, Iraq pada tahun 260H dan meninggal dunia pada tahun 324H di Baghdad. Beluai merupakan pengikut mazhab Syafii dan guru ilmu fiqh beliau ialah Abu Ishaq al-Maruzi.

Pada mulanya beliau ialah seorang murid kepada bapa tirinya yang juga merupakan seorang ulama besar Muktazilah iaitu Abu Ali Muhammad bin Abdul Wahab al-Jubbai (mati 330H). Namun, selepas mendapati iktikad Muktazilah ialah iktikad yang menyeleweng, maka beliau pun keluar daripada mazhab Muktazilah serta bertaubat.

Setelah itu, beliau berusaha mengambil dalil daripada al-Quran dan as-Sunah sehingga berjaya mengarang sebuah kitab yang menerangkan iktikad Ahli Sunnah Waljamaah. Pada tahun 300 H , beliau telah membawa kitab tersebut naik ke atas mimbar di majlis Basrah serta berucap kepada orang ramai:

Wahai manusia, sesungguhnya aku dulu merupakan pengikut Jubbai yang berpendapat al-Quran itu makhluk, Tuhan tidak boleh dilihat dengan mata kepala di akhirat, daan sesungguhnya manusia menjadikan perbuatannya. Sekarang aku keluar daripada mazhab Muktazilah seperti mana aku keluar daripada baju aku ini (ketika itu beliau membuka bajunya dan mencampakkannya). Aku telah karangkan kitab ini sebagai panduan.”

Beliau telah berjaya membuat tajdid atau pembaharuan dalam Ahli Sunnah Waljamaah dengan mengemukakan hujah-hujah akliah, di samping nas syarak bagi melawan aliran Muktazilah serta menyelamatkan akidah Ahli Sunnah Waljamaah. Berkata Abu Bakr al-Sarafi: “Orang Muktazilah mengangkat kepala mereka (sombong dan bongkak) sehinggalah Allah SWT melahirkan Abu Hassan al-Ashaari, lalu mereka dikurung bersama-sama orang yang lemah.”
Sesetengah ulama berpandangan bahawa kehidupan Abu Hassan al-Ashaari telah melalui tiga peringkat yang berbeza:

Peringkat pertama
Beliau berada dalam mazhab Muktazilah bermula dari umurnya 10 btahun sehingga 40 tahun. Ketika itu beliau merupakan ulama besar Muktazilah dan sering menggantikan bapa tirinya al-Jubbai untuk memberi kuliah.

Peringkat kedua
Selepas keluar dari Muktazilah dan di awal kemasukannya ke dalam mazhab Ahli Sunnah Waljamaah, beliau mengikuti aliran Abdullah b. Said b. Kullab. Imam Zahabi berkata bahawa Imam al-Ashaari telah mendampingi golongan al-Kullabi dan mengikuti aliran mereka. Pendapat ini telah disokong oleh al-Maqrizi dan lain-lain ulama. Ketika inilah beliau telah mengarang kitab al-Luma’ fi ar-Rad ‘ala Ahl az-Zaaighi wa al- Bida’.

Peringkat ketiga
Selepas berpindah ke Baghdad, kefahaman akidah Ahli Sunnah Waljamaah beliau semakin mantap dan mula dapat menyisihkan pengaruh Muktazliah serta falsafah. Di peringkat ini, beliau telah mengarang kitab terakhirnya iaitu al-Ibanah ‘an Usul ad-Diyanah.

Dalam apa keadaan sekalipun, Abu Hassan al-Ashaari telah diakui sebagai imam Ahli Sunnah Waljamaah yang mempunyai jasa amat besaar dalam dunia Islam. Gerakan reformasi beliau atau pembaharuan yang diketengahkan oleh beliau bukan saja dapat menahan kebangkitan fahaman aliran Muktazilah. Bahkan beliau telah berjaya mengembalikan pemerintahan Abbasiyah kepada iktikad Ahli Sunnah Waljamaah di mana sebelum ini pemerintahan Abbasiyah di bawah al-Ma’mun (138-218H), al-Mu’tashim (218-227H) dan al-Wasiq (227-232H)telah menganut fahaman Muktazilah serta telah memenjarakan dan membunuh ramai para ulama Ahli Sunnah Waljamaah.

Aliran Ashaa’irah ini telah berkembang pesat di Iraq, kemudian ke Mesir pada zaman Salahuddin al-Ayubi, di Syria dengan sokongan Nuruddin Zanki, di Morocco dengan sokongan Abdullah bin Muhammad Tumerat, di Turki semasa pemerintahan Uthmaniah dan lain-lain lagi. Aliran ini juga telah mendapat sokongan dan perhatian daripada para ulama Mazhab Maliki, Hanafi, Syafii dan Hanbali.

Ibnu as-Subki berkata: “Imam Abu Hassan al-Ashaari merupakan seorang maha guru Ahli Sunnah Waljamaah, imam ahli-ahli ilmu kalam, penolong kepada Sunnah Sayyid al-Mursalin, pembela agama Islam, dan penjaga akidah orang Islam.”
Abu Abdullah b. Khafif al-Syirazi menceritakan: “Aku telah masuk ke bandar Basrah mencari Abu Hassan al-Ashaari, lalu ditunjukkan tempatnya. Aku mendapati beliau berada dalam satu majlis perbincangan. Lalu aku masuk ke majlis itu dan mendapati sekumpulan orang Muktazilah sedang bersoal jawab dan berbincang tentang ilmu kalam dengannya. Apabila mereka selesai menyoal, maka beliau menjawabnya satu demi satu sehingga kesemua persolan yang ditimbulkan oleh golongan Muktazliah telah dijawabnya.”

Sungguhpun begitu, pendapat-pendapat Imam Abu Hassan al-Ashaari tidak sunyi daripada diulas dan dikritik. Ini diakibatkan beliau sering berhujah dan berbahas dengan golongan Muktazilah yang banyak menggunakan falsafah dan golongan Hashawiyah yang menyamakan Allah SWT dengan makhluk serta berpegang kepada nas-nas akibat mutashabihat. Suasana perbahasan itu turut sedikit sebanyak mewarnai pengkaedaan Abu Hassan al-Ashaari, di mana beliau telah menggunakan hujah falsafah dalam berhadapan dengan aliran-aliran tersebut. Ini berbeza dengan Abu Mansur al-Maturidi (ketua ulama Ahli Sunnah Waljamaah di sebelah timur negara Islam), di mana beliau tidak banyak dipengaruhi oleh fahaman falsafah. Ini disebabkan seluruh aliran-aliran bidaah di tempatnya telah dikuasai dan dikalahkan oleh para ulama Ahli Sunnah Waljamaah. Oleh itu, segala pendapat Abu Mansur al-Maturidi berjalan di atas jalan yang sederhana.

Antara pengikut Abu Hassan al-Ashaari yang turut membantu dan meneruskan perjuanagan beliau ialah Qadhi Abu Bakar al-Baqilani, Abu Abdullah bin Mujahid, Abu Hassan al-Bahili, Abu Ishaq Asfaraini, Abu Muhammad al-Juwaini, Imam Haramain al-Juwaini, Imam Fakhruddin ar-Razi, Abu Bakar bin Faruq, Abu Ishaq as-Syirazi, Hujjarul Islam al-Ghazali, Muhammad bin Abdul Karim as-Syahrastani dan lain-lain lagi.

Beliau telah mengarang kitab-kitab terutamanya dalam bidang akidah lebih daripada 97 buah kitab. Senarai kitab-kitab beliau boleh kita rujuk melalui kitab Hidayatul Arifin jilid satu, muka surat 676 dan 677.

Selepas kematian Abu al-Hassan al-Ashaari, maka muncullah pula Abu Bakar al-Baqilani yang berusaha keras menentang dan mematahkan fahaman Muktazilah dan Hashawiyah. Kemunculan beliau telah menghantar pengikutnya ke Syam, Qairawan (Tunisia), Maghribi, Kepulauan Sicily dan Sepanyol. Maka berkembanglah iktikad Ahli Sunnah Waljamaah ke seluruh dunia.

Tegasnya Abu al-Hassan al-Ashaari merupakan salah seorang wujadid agung dan mujtahid muktabar yang telah memberi sumbangan besar terhadap dunia Islam. Kenyataan yang menyatakan beliau adalah mujadid awal kurun bolehlah dilihat dalam kitab Taqwin al-Fikri at-Tammah karangan Sheikh Abdullah Alwi al-Hadad.

p/s: PERHATIAN! Sekiranya berniat menjadikan maklumat ini sebagai sumber rujukan, sila maklumkan terlebih dahulu.

 
4 Comments

Posted by on May 16, 2011 in Pengantar Ilmu Tauhid